Seminar Menulis Aplikatif UMS

Jam 2.30 sore pulang dari UMS ikut Seminar Menulis Aplikatif
Ya Alloh, asyik berat deh pokoknya. Jadi awalnya aku sedikit complicated di rumah.
Antara jadi n enggak. Aku malah marah. Ma ibu, bapak. Padahal kalo dipikir-pikir aku yang salah.
Mendadak aku sebel! Benci ma mereka!
Malahan aku nangis. Tapi akhirnya aku ngebis ma apri. Berangkat jam 7an dari rumah.
Berbekal hati yg masih agak dongkol. Tapi udah cukup reda karena ternyata
ortu nanggapinnya beda, dan aku jd lega juga.
Terus, motor kutitipin di RSI, n aku nunggu bis di depan RSI, perempatan deket RSI
teptnya. Belum lama nunggu, bisnya udah muncul, ALhamdulillaah Alloh baik banget.
Jdag dig dug, naek bis berdua.
Di jalan, konsentrasi penuh, ngobrol2 biar nggak muntah, walo perut agak gimanaaa
gitu. Tapi nggak bnget kok. Malahan apri yg katanya agak mual.
Pas turunnya...JGERR!!! ada temenku fariska, hanif (temen skul sore MI), Ulin, ma
satu ikhwan temen Ulin!
ga nyangka banget tau nggak. Tiba2 ada mereka, and satu bis! tapi kita nggak tau kalo kita satu
bis ma mereka. Olalaaaah...!
yaudah, kita jalan bareng ke UMSnya....
senengnya ada temend!!!
Terus registrasi and masuk di ruangan ketemu Zulfi ma Dewi. Yaudah, ndengerin deh!
yg ngisi Ustadz Sholikhin Abu Izzudin, penulis Zero to Hero itu lho...
Isinya :
1. Niatkan menulis kita ikhlas
2. Baca basmalah
3. Buat tulisan yg inspiratif, menggugah,
dst...
intinya dari situ aku dapet semangat 100% untuk nulis!!
oia, aku juga dapet pesen...
MEMBACA ITU ADALAH SEBAIK-BAIK KESIBUKAN, SEBELUM JADI PENULIS
BACA DULU, maksudnya rajin2 baca, buat menambah khazanah kepenulisan kita tentunya.
tp yg bikin aku stuck ke seminar itu adalah bahwa IKHLASKAN MENULIS KITA..
NIATKAN YG BENERRR!!!!
JADIKAN AMAL JARIYAH TULISAN KITA...
sesuai dengan keinginanku selama ini, BERDAKWAH LEWAT TULISAN..
Tapi, kalo dibandingin ma tulisanku yg dimuat di Gaul ttg Gara2 Gosip.
Wuih, apa sih manfaat buat org lainnya???
Nulisnya jg ga dr hati deh kyknya.
Kan tadi tuh juga dikasih teu, kalo kita juga harus menulis dari hati, biar ntar
pembacanya juga lgsg nangkep ke hati mereka. nggak sia2!!!!
Ini nih yg sulitt!!!!
Tapi, kita kan kudu berusaha...yg jelas mulai detik ini, aku harus bisa bikin tulisan
yg BERKUALITAS!!!!
MENGGUGAH!!!
BERMANFAAT BUAT ORANG LAINN!!!
Nah, abis itu Seminar dilanjutin tanya jawab, n dapet hadiah buat penanya.
terus ada juga kyk renungan penulis impian kita laaah...
terus apri mbacain ttg apa yg ditulisnya...
bla bla bla...kerenn lah...apri gituuu!!
terus dapet sertifikat juga!!!!
n di bawah ada bazarr juga lohh, cuman aku nggak beli apa2, udah bnyk buku yg belom dibaca!
terus sholat, n pulangnya makan bakso ayam dulu, yummy sedaaapppp!!
n nunggu bis lagi deh!!
Yg ini mah laamaaa....ga dapet2...
ada 3 bis lewat cuman 2 sumber Kencono, 1 nya EKA, tapi kiat nggak naik itu..
barulah muncul bis Gotong Royong -entahlah nama aselinya apaan td ada tulisan gt-
kita naek itu, bis Solo yogya nan...
bayarnya naek 1000, pas brkt tadi naek Damri 4rb, plgnya 5rb..
Beda gitu ya? tau ah, pertama naek bis tanpa keluarga, alias UCUL DEWE!!!
HEheheh......
Tapi pengalaman tadi berharga banget kok!
Naek bus pertama kali dengan teman, tanpa pendamping!!
Senengnyaaaa....ALHAMDULILLAAH Alloh ngasi kemudahan buat kami semua tadi!
Perjalanannya lancarrr!!

Oia, tadi tuh kita ketemu pak2 peminta bantuan buat pembangunan masjid ampe 2 kali!
org yg sma lhoo!!
Bayangin aja!!!
Hehe....
Tau deh, si bapak hapal ma kita nggak, yg jelas aku ma apri hapal wajahnya..
sebelum minta sumbangan si bapak ngamen dulu,, ya lagunya ttg nasihat gt,,,

YG jelas,,,pengalaman berharga nggak akan TERLUPA!!!!

THANKS ALLOH,,,!!!!









BENTUK BULAT PLANET BUMI


“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia menutupkan malam atas siang danb menutupkan siang atas malam … “ (Qs. Az-Zumar (39):5)

Dalam Al-Qur’an, kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai ”menutupkan” dalam ayat di atas adalah takwir. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakai di atas kepala.


Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti dalam Alquran, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.


Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Alquran berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir.


Dalam Alquran, Allah juga mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:


”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (QS- Anbiya[21]:32).


Sifat langit ini telah dibuktikan oleh peneliti ilmiah abad ke-20. Atmosfer yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.


Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar Ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya hanya menembus atmosfer, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfer dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.


Kebanyakan manusia yang memndang ke arah langit tidak pernah berfikir tentang fungsi atmosfer sebagai pelindung. Hampir tak pernah terlitas dalam benak mereka tentang apa jadinya bumi ini jika atmosfer tidak ada. Foto di atas adalah kawah raksasa yang terbentuk akibat hantaman sebuah meteor yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat. Jika atmosfer tidak ada, jutaan meteorid akan jatuh ke Bumi, sehingga menjadikanny tempat yang tak dapat dihuni. Namun, fungsi pelindung dari atmosfer memungkinkan makhluk hidup untuk melaqngsungkan kehidupannya dengan aman. Ini semua sudah pasti perlindungan yang Allah berikan bagi manusia, dan sebuah keajaiban yang dinyatakan di dalam Al Qur’an.


Fungsi pelindung dari atmosfer tidak terhenti sampai di sini. Atmosfer juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.


Tidak hanya atmosfer yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfer, Sabuk Van Allen, suatau laipsan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhluk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan api raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-kali pada matahari akan mengahncurkan seluruh kehidupan di muka bumi.


Dr. Hugh Ross berkata tentang peran penting Sabuk Van-Allen begi kehidupan kita:


Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel da besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika ;lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di bumi. Satu-satunya planet planet berbatu lainya yang berkemungkinan memiliki medan magnet linya adalah Merkurius, tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memilii medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi.


Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut, teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250 kilometer di atas atmosfer bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga mencapai 2.500 derajat celcius.


Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi. Ia melingkupi Bumi kita dan melindunginya dari berbagai anacaman dari luar angakasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur’an tentang atmosfer bumi yang berfungsi sebagai lapisan pelindung.



Dikutip dari Tabloid Dialog Jum’at Republika edisi Jum’at 18 Januari 2008

Tentang Kimia


KIMIA...
singkat tapi bikin nggak enak..
gatau kenapa padahal aku udah berusaha untuk belajar.
pas ulangan mendadak aku ngeblank!
Sediiih banget kalo ingat itu.
aku nggak bisa mbahagiain ortuku. sebenernya nggak penting aku dapet jelek ato ga.coz aku kan udah berusaha jur.
tapi, kalo inget irtuku jadi gimanaaa....gitu.
lagian ya, kimia itu nggak bakal jadi pertanyaan kubur kita.
kalo kata salah satu temenku hadapilah hari esok aja, yg lalu biarlah berlalu geto!
dia bilang gitu waktu aku cerita ke dy. padahal aku nggak ada niat awalnya mau cerita ke dia.
habis giman lagi...ngglondor gitu aja.
kalo pas di skul mah aku nggak mgkn bisa cerita ke sapa2...tapi aku critanya itu pas di sms..
wuih....
tapi, sekarang aku udah nggak begitu inget hal itu lagi.
lupakannn!!!!
forget it!!
Yg pntg JUJUR!!!!

Wanita Haidh Membaca Al-Qur'an

Penulis: Ummu Hamzah
Muroja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar
Pada tulisan yang telah lalu telah dibahas mengenai hal-hal yang diharomkan bagi wanita haid. Pada tulisan bagian kedua ini, akan dipaparkan tiga permasalahan penting terkait wanita haid, yaitu mengenai boleh tidaknya wanita haid masuk ke dalam masjid serta menyentuh dan membaca Al Qur’an.
Bolehkah seorang wanita yang sedang haid masuk dan duduk di dalam masjid ?
Sebagian ulama melarang seorang wanita masuk dan duduk di dalam masjid dengan dalil:
لاَأُحِلُّ الْمَسْجِدُ ِلحَائِضٍُ وَلا َجُنُبٍ
“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidh dan orang yang junub.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud no.232, al Baihaqi II/442-443, dan lain-lain)
Akan tetapi hadits di atas merupakan hadits dho’if (lemah) meski memiliki beberapa syawahidrahimahullaah- telah menjelaskan hal tersebut dalam ‘Dho’if Sunan Abi Daud’ no. 32 serta membantah ulama yang menshahihkan hadits tersebut seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu al Qohthon, dan Asy Syaukani. Beliau juga menyebutkan ke-dho’if-an hadits ini dalam Irwa’ul Gholil’ I/201-212 no. 193. (penguat) namun sanad-sanadnya lemah sehingga tidak bisa menguatkannya dan tidak dapat dijadikan hujjah. Syaikh Albani -
Berikut ini sebagian dalil yang digunakan oleh ulama yang membolehkan seorang wanita haid duduk di masjid (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/191-192):
  1. Adanya seorang wanita hitam yang tinggal di dalam masjid pada zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Namun tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkannya untuk meninggalkan masjid ketika ia mengalami haidh.
  2. Sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu’anha, “Lakukanlah apa yang bisa dilakukan oleh orang yang berhaji selain thowaf di Baitullah.” Larangan thowaf ini dikarenakan thowaf di Baitullah termasuk sholat, maka wanita itu hanya dilarang untuk thowaf dan tidak dilarang masuk ke dalam masjid. Apabila orang yang berhaji diperbolehkan masuk masjid, maka hal tersebut juga diperbolehkan bagi seorang wanita yang haidh.
Kesimpulan:
Wanita yang sedang haid diperbolehkan masuk dan duduk di dalam masjid karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih yang melarang hal tersebut. Namun, hendaknya wanita tersebut menjaga diri dengan baik sehingga darahnya tidak mengotori masjid.
Bolehkah seorang wanita yang sedang haid membaca Al Qur’an (dengan hafalannya) ?
Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang haid dilarang untuk membaca Al Qur’an (dengan hafalannya) dengan dalil:
لاَ تَقرَأِ الْحَا ءضُ َوَلاََ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْانِ
“Orang junub dan wanita haid tidak boleh membaca sedikitpun dari Al Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi I/236; Al Baihaqi I/89 dari Isma’il bin ‘Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar)
Al Baihaqi berkata, “Pada hadits ini perlu diperiksa lagi. Muhammad bin Ismail al Bukhari menurut keterangan yang sampai kepadaku berkata, ‘Sesungguhnya yang meriwayatkan hadits ini adalah Isma’il bin Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dan aku tidak tahu hadits lain yang diriwayatkan, sedangkan Isma’il adalah munkar haditsnya (apabila) gurunya berasal dari Hijaz dan ‘Iraq’.”
Al ‘Uqaili berkata, “Abdullah bin Ahmad berkata, ‘Ayahku (Imam Ahmad) berkata, ‘Ini hadits bathil. Aku mengingkari hadits ini karena adanya Ismail bin ‘Ayyasi’ yaitu kesalahannya disebabkan oleh Isma’il bin ‘Ayyasi’.”
Syaikh Al Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari penduduk Hijaz maka hadits ini dhoif.” (Diringkas dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid dari Irwa’ul Gholil I/206-210)
Kesimpulan dari komentar para imam ahli hadits mengenai hadits di atas adalah sanad hadits tersebut lemah sehingga tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk melarang wanita haid membaca Al Qur’an.
Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata, “Aku datang ke Mekkah sedangkan aku sedang haidh. Aku tidak melakukan thowaf di Baitullah dan (sa’i) antara Shofa dan Marwah. Saya laporkan keadaanku itu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Lakukanlah apa yang biasa dilakukan oleh haji selain thowaf di Baitullah hingga engkau suci’.” (Hadits riwayat Imam Bukhori no. 1650)
Seorang yang melakukan haji diperbolehkan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an. Maka, kedua hal tersebut juga diperbolehkan bagi seorang wanita yang haid karena yang terlarang dilakukan oleh wanita tersebut -berdasar hadits di atas- hanyalah thowaf di Baitullah. (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/183)
Kesimpulan:
Wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang melarang hal tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.
Bolehkah seorang wanita yang sedang haid menyentuh mushhaf Al Qur’an ?
Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama. Ulama yang melarang hal tersebut berdalil dengan ayat:
لاَّ يَمَسَّةُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ
Artinya:
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al Waqi’ah: 79)
يَمُسُّ maksudnya adalah menyentuh mushhaf al Qur’an. المُطَهَّرُونَ maksudnya adalah orang-orang yang bersuci. Oleh karena itu tidak boleh menyentuh mushaf al Qur’an kecuali bagi orang-orang yang telah bersuci dari hadats besar atau kecil.
Mereka juga berdalil dengan hadits Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menulis surat kepada penduduk Yaman dan di dalamnya terdapat perkataan:
لاَّ يَمَسُّ الْقُرْاَنَ إِلاَّ طَا هِرٌ
“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.” (Hadits Al Atsram dari Daruqutni)
Sanad hadits ini dho’if namun memiliki sanad-sanad lain yang menguatkannya sehingga menjadi shahih li ghairihi (Irwa’ul Ghalil I/158-161, no. 122)
Ulama yang membolehkan wanita haid menyentuh mushhaf Al Qur’an memberikan penjelasan sebagai berikut:
إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيْمٌ فِي كِتَابٍ مَّكْنُو نٍ لاَّ يَمَسَّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ تَتِريلٌ مِّن رَّبِّ الْعَا لَمِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya Al qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia pada kitab yang terpelihara. Tidak menyentuhya kecuali (hamba-hamba) yang disucikan. Diturunkan oleh Robbul ‘Alamin.”
(QS. Al Waqi’ah: 77-80)
Kata ganti ﻪ (-nya pada “Tidak menyentuhnya”) kembali kepada ﻛﺘﺎﺏ ﻣﻜﻨﻮﻥ (Kitab yang terpelihara). Ibnu ‘Abbas, Jabir bin Zaid, dan Abu Nuhaik berkata, “(yaitu) kitab yang ada di langit”.
Adh Dhahhak berkata, “Mereka (orang-orang kafir) menyangka bahwa setan-setanlah yang menurunkan Al Qur’an kepada Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam, maka Allah memberitakan kepada mereka bahwa setan-setan tidak kuasa dan tidak mampu melakukannya.” (Tafsir Ath Thobari XI/659).
Mengenai ﺍﻟﻤُﻄَﻬَّﺮُﻭﻥَ menurut pendapat beberapa ulama, di antaranya:
  1. Ibnu ‘Abbas berkata, “Adalah para malaikat. Demikian pula pendapat Anas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Adh Dhahhak, Abu Sya’tsa’ , Jabir bin Zaid, Abu Nuhaik, As Suddi, ‘Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dan selain mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir (Terj.)]
  2. Ibnu Zaid berkata, “yaitu para malaikat dan para Nabi. Para utusan (malaikat) yang menurunkan dari sisi Allah disucikan; para nabi disucikan; dan para rasul yang membawanya juga disucikan.” (Tafsir Ath Thobari XI/659)
Imam Asy Syaukani berkata dalam Nailul Author, Kitab Thoharoh, Bab Wajibnya Berwudhu Ketika Hendak Melaksanakan Sholat, Thowaf, dan Menyentuh Mushhaf: “Hamba-hamba yang disucikan adalah hamba yang tidak najis, sedangkan seorang mu’min selamanya bukan orang yang najis berdasarkan hadits:
الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ
“Orang mu’min itu tidaklah najis.” (Muttafaqun ‘alaih)
Maka tidak sah membawakan arti (hamba) yang disucikan bagi orang yang tidak junub, haid, orang yang berhadats, atau membawa barang najis. Akan tetapi, wajib untuk membawanya kepada arti: Orang yang tidak musyrik sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (QS. At Taubah: 28)
Di samping itu lafadz yang digunakan dalam ayat tersebut adalah dalam bentuk isim maf’ul-nya (orang-orang yang disucikan), bukan dalam bentuk isim fa’il (orang-orang yang bersuci). Tentu hal tersebut mengandung makna yang sangat berbeda.
Mengenai hadits “Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci”, Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata, “Yang paling dekat -Wallahu a’lam- maksud “orang yang suci”shallallahu’alaihi wa sallam: “Orang mu’min tidakah najis” dan hadits di atas disepakati keshahihannya. Yang dimaksudkan dalam hadits ini (yaitu hadits Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci) bahwasanya beliau melarang memberikan kuasa kepada orang musyrik untuk menyentuhnya, sebagaimana dalam hadits: dalam hadits ini adalah orang mu’min baik dalam keadaan berhadats besar, kecil, wanita haid, atau yang di atas badannya terdapat benda najis karena sabda beliau
نَهَى أَنْ يُسَا فَرَ بِا لْقُرْانِ إِلَى أَرْضِ اْلعَدُو
“Beliau melarang perjalanan dengan membawa Al Qur’an menuju tanah musuh.” (Hadits riwayat Bukhori). (Dinukil dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid dari Tamamul Minnah, hal. 107).
Meski demikian, bagi seseorang yang berhadats kecil sedang ia ingin memegang mushaf untuk membacanya maka lebih baik dia berwudhu terlebih dahulu. Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “Aku sedang memegang mushhaf di hadapan Sa’ad bin Abi Waqash kemudian aku menggaruk-garuk. Maka Sa’ad berkata, ‘Apakah engkau telah menyentuh kemaluanmu?’ Aku jawab, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Berdiri dan berwudhulah!’ Maka aku pun berdiri dan berwudhu kemudian aku kembali.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththa’ dengan sanad yang shahih)
Ishaq bin Marwazi berkata, “Aku berkata (kepada Imam Ahmad bin Hanbal), ‘Apakah seseorang boleh membaca tanpa berwudhu terlebih dahulu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, akan tetapi hendaknya dia tidak membaca pada mushhaf sebelum berwudhu”.
Ishaq bin Rahawaih berkata, “Benar yang beliau katakan, karena terdapat hadits yang dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ‘Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci’ dan demikian pula yang diperbuat oleh para shahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (Dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid, dari Irwaul Gholil I/161 dari Masa’il Imam Ahmad hal. 5)
Abu Muhammad bin Hazm dalam Al Muhalla I/77 berkata, “Menyentuh mushhaf dan berdzikir kepada Allah merupakan ibadah yang diperbolehkan untuk dilakukan dan pelakunya diberi pahala. Maka barangsiapa yang melarang dari hal tersebut, maka ia harus mendatangkan dalil.” (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/188).
Kesimpulan:
Wanita yang sedang haid diperbolehkan menyentuh mushhaf Al Qur’an karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih yang melarang hal tersebut. Wallaahu Ta’ala A’lam.
Rujukan:
  1. Larangan-larangan Seputar Wanita Haid, artikel Majalah As Sunnah 01/ IV/ 1420-1999, Abu Sholihah Muslim al Atsari.
  2. Jami’ Ahkamin Nisa’, Syaikh Musthofa al ‘Adawi.
  3. Tafsir Al Qur’an Al ‘Adziim (Terj. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8), Ibnu Katsir

dari : www.muslimah.or.id