Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Dunia

Dialah yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya.

Dunia Islam memanggilnya dengan nama Ibnu Sina. Namun di kalang an orangorang Barat, ia dikenal dengan panggil an Avicenna. Ia merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif.

Dan sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat dan pengobatan. Bagi banyak orang, Ibnu Sina adalah Bapak Pengobatan Modern. Selain itu, masih banyak lagi sebutan lainnya yang ditujukan padanya, terutama berkaitan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/ 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan saat ini. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M).

Sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kepandaian yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Alquran. Selain menghafal Alquran, ia juga belajar mengenai ilmu-ilmu agama. Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar mengenai teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit dan melalui perhitungannya sendiri, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan.

Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Banyak tabib dan ahli yang hidup pada masa itu tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, paling tidak untuk sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas makin bertambah.

Ibnu Sina selain terkenal sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama dan kedokteran, ia juga ahli dalam bidang matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, metafisika dan filosofi. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan.

Tak hanya itu, ia juga mendalami masalah-masalah fikih dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. Ia banyak menafsirkan ayat-ayat Alquran untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal. Setelah kematian ayahnya ia mulai berkelana, menyebarkan ilmu dan mencari ilmu yang baru. Tempat pertama yang menjadi tujuannya setelah hari duka itu adalah Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah. Di sinilah ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni. Ia kemudian berguru kepada Al-Biruni.

Setelah itu Ibnu Sina melanjutkan lagi perjalanannya untuk menuntut ilmu. Rayy dan Hamadan adalah kota selanjutnya, sebuah kota dimana karyanya yang spektakular Qanun fi Thib mulai ditulis. Di tempat ini pula Ibnu Sina banyak berjasa, terutama pada raja Hamadan. Seakan tak pernah lelah, ia melanjutkan lagi pengembaraannya, kali ini daerah Iran menjadi tujuannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya itu, banyak lahir karya-karya besar yang memberikan manfaat besar pada dunia ilmu kedokteran khususnya.

Tentu tak berlebihan bila Ibnu Sina mendapat julukan Bapak Kedokteran Dunia. Karena perkembangan dunia kedokteran awal tidak bisa terlepas dari nama besar Ibnu Sina. Ia juga banyak menyumbangkan karya-karya asli dalam dunia kedokteran. Dalam Qanun fi Thib misalnya, ia menulis ensiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Ia juga orang yang memperkenalkan penyembuhan secara sistematis, dan ini dijadikan rujukan selama tujuh abad lamanya.

Ibnu Sina pula yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Dan dari sana ia berkesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berhubungan.

Ia adalah orang yang pertama kali merumuskan, bahwa kesehatan fisik dan kesehatan jiwa berada kaitan dan saling mendukung. Lebih khusus lagi, ia mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama pathology dan farmasi, yang menjadi bagian penting dari ilmu kedokteran. Selain The Canon of Medicine, ada satu lagi kitab karya Ibnu Sina yang tak kalah dahsyatnya. Asy-Syifa, begitu judul kitab karya Ibnu Sina ini.

Sebuah kitab tentang cara-cara pengobatan sekaligus obatnya. Kitab ini di dunia ilmu kedokteran menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Dalam bahasan latin, kitab ini di kenal dengan nama Sanati.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M di kota Hamdan, Iran. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia. Hampir sebelas abad sudah Ibnu Sina meninggalkan kita, tapi ilmu dan karyanya sampai sekarang masih berguna.

Mendapat banyak gelar
Kebesaran nama Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya. Di bidang filsafat ia mendapat gelar asy-Syaikh ar-Rais (Guru Para Raja). Dalam bidang filsafat, ia memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya.

Ketajaman pemikiran dan keda -laman keyakinan keagamaannya seca ra simultan mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat. Sementara al-Gazali menjulukinya sebagai filsuf yang terlalu banyak berpikir.

Seperti pendahulunya, al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina mengakui bahwa alam diciptakan secara emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan menciptakan alam dalam arti memancarkannya. Ia juga mengemuka kan pemikiran filsafat tentang jiwa (annafs) dan kenabian. Ibnu Sina berpendapat bahwa nabi adalah manusia terunggul dan pilihan Tuhan. Filsuf hanya dapat menerima ilham, sedangkan nabi menerima wahyu. Oleh karena itu, ajaran nabi harus menjadi pedoman hidup manusia.

Di bidang kedokteran ia mendapat julukan Pangeran Para Dokter dan Raja Obat. Banyak para pembesar negeri pada masa itu yang mengundangnya untuk memberikan pengobatan. Para pembesar negeri tersebut di antaranya Rtau Sayyidah serta Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan, dan Alaud Dawla dari Isfahan. Karenanya dalam dunia Islam, ia dianggap sebagai puncah atau Bapak ilmu kedokteran.

Bukan hanya dalam filsafat dan kedokteran saja Ibnu Sina memberikan andil dan pemikirannya. Ia juga turut serta ambil bagian dan memberikan andil pada berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, di antaranya yang menonjol adalah ilmu astronomi. Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya al-Magest (buku tentang astronomi) berbagai problem yang belum dibahas, mengajukan beberapa keberatan Euclides, meragukan pandangan Aristoteles tentang kesamaan bintang-bintang tak bergerak, kesamaan satuan jaraknya, dan sebagainya. Untuk itu di dalam buku Asy-Syifa, ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada pada satu globe.

Ibnu Sina juga banyak membuat rumusan-rumusan tentang pembentukan gunung-gunung, barang-barang tambang, di samping menghimpun berbagai analisis tentang fenomena atmosfer, seperti angin, awan, dan pelangi. Sementara orang yang sezaman dengannya tidak mampu menambahkan sesuatu ke dalam bidang penelitian mereka.


Karya Sang Dokter

Sepanjang hayatnya, Ibnu Sina banyak menu lis berbagai macam karya yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya. Jumlahnya mencapai 250 karya, baik dalam bentuk buku maupun risalah.

Karya-karyanya itu antara lain :
Qanun fi Thib
Kitab ini ditulis ketika ia menuntut ilmu di Rayy dan Hamadan. Qanun fi Thib yang dalam bahasa Inggris telah diterjemahkan dengan nama The Canon of Medicine, berisi tentang berbagai macam cara penyembuhan dan obat-obatan. Didalamnya tertulis jutaan item tentang pengobatan dan oabt-obatan. Karena itu, ada pula yang menamakan kitabnya ini sebagai Ensiklopedia Pengobatan.

Al-Magest
Buku ini berkaitan dengan bidang astronomi. Diantara isinya, bantahan terhadap pandangan Euclides, serta meragukan pandangan Aristoteles yang menyamakan bintang-bintang tak bergerak. Menurutnya, bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada dalam satu globe.

Asy-Syifa
Dalam buku Asy-Syifa ini, Ibnu Sina juga menuliskan tentang masalah penyakit dan pengobatan sekaligus obat yang dibutuhkan berkaitan dengan penyakit bersangkutan. Sama seperti Qanun fi Thib, kitab Asy-Syifa ini juga dikenal dalam dunia kedokteran sebagai Ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Kitab ini terdiri dari 18 jilid.

De Conglutineation Lagibum
Kitab ini ditulis dalam bahasa latin, yang membahas tentang masalah penciptaan alam. Diantaranya tentang asal nama gunung. Menurutnya, kemungkinan gunung tercipta karena dua sebab. Pertama, menggelembungnya kulit luar bumi lantaran goncangan hebat gempa. Dan kedua, karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses itu mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan
bumi. sya/dia/taq

Red: Republika Newsroom

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/06/08/55064-ibnu-sina-bapak-kedokteran-dunia

26 April 2010 in memoriam

Alhamdulillah... akhirnya lulus juga. Ya, setelah tiga tahun menempuh pendidikan jenjang SMA ini akhirnya tanggal 26 April yang kita tunggu tiba juga, aku dan seluruh siswa kelas XII SMAN 1 Karanganom tahun ajaran 2009/2010 LULUS!!

Betapa perjuangan dan lika-liku kehidupan sekolah telah kami lalui, kadang kami tertawa bahagia karena nilai ulangan bagus, kadang kadi merengut cemberut karena nilai ulangan kurang, dan harus Remedi. Hmm... itu semua sudah berlalu sobat!!

Namun, namanya juga nasib, kadang ada yang lancar ada yang tidak. Masih banyak teman-teman kita di sana yang musti mengulang ujiannya tanggal 10 Mei nanti, alias mereka tidak lulus Ujian Nasional Utama. Beragam ekspresi mereka keluarkan, ada yang menangis, ada yang teriak-teriak histeris, bahkan ada yang malah merusak sekolahnya segala. Ada juga yang
ngamuk sama kepal sekolahnya. Wah wah, kalau sudah begini bukan murid lagi namanya, tapi preman! Bahkan, yang paling membuat miris adalah seorang pelajar bunuh diri hanya karena tidak lulus ujian nasional. Na'udzubillah.

Oleh karenanya, kita semua musti bersyukur banyak banyak. Allah sudah memberi kemudahan kepada kita untuk merasakan nikmatnya lulus. Namun sayangnya, ekspresi kelulusan itu juga tak selamanya indah. Banyak dari mereka yang lulus justru melakukan tindakan yang lagi-lagi, bukan seperti pelajar. Seperti konvoi, corat coret baju, bahkan ada yang minum-minuman keras segala. Na'udzubillah. Semoga kita tidak termasuk salah satu dari mereka ya.

Ekspresi kelulusan memang sah sah saja. Namun, sebaiknya dengan cara yang benar dan pas ya. Apalagi kita ini kan educated people harusnya bisa menjadi contoh untuk orang-orang di sekitar kita. Alangkah baiknya kalau kita memanfaatkan moment kelulusan ini dengan hal-hal yang baik. Seperti menyumbangkan baju kita untuk adik-adik kelas yang sekiranya membutuhkan baju yang layak pakai. Daripada dicorat-coret nggak jelas?

Kelulusan ini sebaiknya jangan kita anggap sebagai titik akhir kejayaan kita, seakan-akan jika kita lulus SMA kita baru saja mendapatkan harta karun yang telah lama tersimpan di dasar bumi. Karena, sebenarnya kelulusan ini merupakan pintu gerbang kita menuju masa depan yang lebih ganas, lebih menantang, dan lebih tak terkira lagi. Dimana kita akan dituntut untuk lebih mandiri, sejauh mana kemampuan kita mengahadapi masalah, apakah kita bisa menyelesaikannnya sendiri tanpa bantuan orang tua kita? Karena seperti pada umumnya siswa SMA, kita pasti akan masuk jenjang kuliah. Selain itu, tak hanya untuk anak yang melanjutkan kuliah saja, bagi anak yang ingin bekerja tentunya akan lebih mendapatkan pengalaman mandiri, dimana dilatih utnuk memanage uang hasil jerih payah sendiri.

Yang terpenting adalah kita sebagai pelajar ini jangan berpikir terlalu dangkal dalam memaknai arti sebuah kelulusan. Bahwa kelulusan itu adalah sebuah titik awal perjuangan kita meraih cita-cita. Dan bahwa ketidaklulusan sekalipun bukan merupakan suatu malapetaka luar biasa layaknya kiamat. Betul tidak?

So, tetep semangat menggapai asa yaaa!!!
Jalanmu masih panjang sobat!
Keep spirit, Allahu akbar!

Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong) Adalah Muslim (Ulama)

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.





Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Sumber: kaskus.us

Membaca dan Menulis secara 'Fun'

Tidak banyak remaja yang menyadari bahwa membaca adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa kalau terlalu banyak membaca itu membosankan. Apalagi menulis, ini kegiatan yang sangat menguras otak, karena butuh ketajaman kata-kata dalam melakukannya. Paradigma seperti ini sebaiknya segera disapu bersih dari otak remaja. Karena jika dibiarkan maka tak usah kaget jika mengetahui kecerdasan remaja Indonesia itu masih jauh dibandingkan negara-negara lainnya, lha wong minat bacanya saja rendah sekali.

Kalau begitu, bagaimana cara menumbuhkan minat baca remaja Indonesia? Apakah mereka harus disajikan berbagai macam buku? Atau jangan-jangan minat bacanya rendah karena harga buku masih belum tergapai oleh kantong-kantong mereka? Bisa jadi demikian.

Kalau ditelisik lebih lanjut memang terdapat bermacam-macam sebab dan alasan yang membuat remaja kurang menggandrungi kegiatan membaca dan menulis. Selain karena aktivitas itu membuat mereka bosan juga karena belum adanya sarana dan prasarananya, yang tidak lain adalah buku. Karena, mereka tidak sejak dini disodori buku bacaan, sehingga mereka kurang begitu akrab dengan benda yang satu itu.

Nah, bapak Hernowo mencoba melakukan sebuah usaha. Beliau yang juga seorang guru bahasa dan Sastra Indonesia SMA pastilah sangat paham dengan apa yang dialami murid-muridnya. Ya, beliau menulis sebuah buku pembangkit semangat, atau bisa disebut buku motivasi, yang isinya mendorong remaja Indonesia untuk gemar membaca dan menulis. Beliau bahkan secara terang-terangan menyebutkan jika pembaca mau membaca bukunya itu mereka akan mampu membaca dan menulis secara 'fun'. Kalimat itu beliau sampaikan di sampul depan bukunya.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit MLC itu beliau beri judul 'Mengikat Makna'. Bagi saya judul itu menjual, membuat penasaran siapa yang membacanya. Karena jika ingin tahu lebih jauh kita harus membeli bukunya dan melahap habis isinya. Apalagi buku itu dikhususkan bagi remaja. Walau tidak menutup kemungkinan pembacanya juga bisa orang dewasa. Namun, bahasa penulisan di buku tersebut lebih dibuat meremaja, atau lebih gaul. Sehingga pembaca -yang kebanyakan remaja- tidak akan merasa digurui, dan tentunya mereka tidak akan cepat bosan dengan bahasa yang ringan dan tidak berbelit-belit.

Selain agar membuat pembacanya termotivasi membaca dan menulis secara 'fun', bapak Hernowo juga menyajikan manfaat lain dari bukunya, yaitu mampu mengenali diri sedikit demi sedikit, mampu mencuatkan potensi unik kita, dan mampu mengubah hidup kita. Itu semua lagi-lagi beliau pampangkan di sampul depan.

Pertama kali membuka buku Mengikat Makna kita akan disambut dengan sebuah bagan (bapak Hernowo menyebutnya 'peta').

Aku biasa menunjukkan lebih dahulu semacam "the big picture" gagasanku. Aku yakin sekali jika para pembaca bukuku dapat memahami lebih awal tentang "gambaran besar" gagasanku, tentu kemungkinan besar mereka akan dimudahkan memasuki inti pikiranku. Gambar di halaman ini juga dapat dikatakan semacam "peta"...

Itu adalah kutipan keterangan yang ditulis bapak Hernowo mengenai "peta" yang beliau buat. Dan memang berguna sekali. Dengan membaca "peta" tersebut kita akan mampu memasuki pikiran beliau. Kita akan segera mengetahui ke arah mana kita digiring ketika membaca buku itu. Bagian yang mengesankan adalah pada kalimat :

Aku berharap "peta" ini dapat membantu siapa saja untuk bersegera menjelajah dan meraih "harta karun" ilmu yang ada di bukuku....

Saya sungguh tertarik dengan pernyataan penulis mengenai "harta karun" ilmu. Saya seperti merasa mendapatkan sesuatu yang baru, luar biasa, dan sulit untuk diungkapkan. Betapa buku itu memiliki sisi yang fantastis (kalau boleh saya sebut begitu), karena apa? Karena buku tidak sekadar gudang ilmu, namun buku adalah "harta karun" ilmu. Luar biasa bukan?

Lewat bukunya, pak Hernowo (terasa lebih akrab disapa demikian) mengajak kita untuk memperkaya diri dengan membaca, kemudian menjaga dan menyebarkan kekayaan ilmu yang kita dapat dari buku dengan menulis. Maksudnya adalah menuliskan segala yang kita baca, apapun, entah itu manfaat atau hal lainnya yang kita dapatkan setelah kita membaca buku. Atau istilah kerennya adalah Resensi.

Oleh karena itu, di bukunya pak Hernowo menyelipkan beberapa hasil karya peserta lomba menulis resensi buku terbitan Kaifa for Teens. Dan hampir semua yang meresensi itu masih berstatus siswa SMA. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi pembaca bukunya agar mau menengok hasil karya mereka untuk kemudian mulai mempraktikannya sendiri.

Selain itu, pak Hernowo juga meminta pembaca untuk merumuskan "AMBak" (Apa Manfaatnya Bagiku?) sebelum kita menekuni kegiatan membaca dan menulis itu. Dengan begitu, kita jadi termotivasi untuk terus membaca dan menulis. Karena kita sudah merumuskan secara spesifik apa manfaat atau tujuan dari kegiatan yang kita lakoni itu.

Pak Hernowo juga meminta kita untuk memilih buku-buku yang sekiranya dapat menggerakkan pikiran kita. Jadi, tidak sembarang buku kita baca. Karena kualitas buku itulah yang menentukan sejauh mana pengetahuan kita bertambah setalah membacanya. Buku yang 'lezat' adalah buku yang ditulis oleh penulis yang hebat.

Di sub bab tersebut pak Hernowo juga mencoba membandingkan kegiatan membaca buku dengan menonton televisi atau film. Dengan membaca buku kita akan lebih aktif dibandingkan dengan ketika menonton televisi. Maksudnya adalah ketika kita membaca buku tentunya kita dipaksa lebih fokus, perhatian kita penuh kepada buku yang kita baca. Kita harus mencerna dan menafsirkan maksud dari setiap kalimat. Itulah yang disebut aktif menurut pak Hernowo.
Selain itu, kerutinan membaca buku dapat menumbuhkan dendrit dan dapat mengaktifkan koneksi antar sel-sel saraf di otak kita. Luar biasa bukan?

Tahap penting selanjutnya adalah berusaha sekuat tenaga untuk menuliskan pikiran kita secara bebas dan lepas. Menuliskan segala hal di benak kita, apa yang menyesaki dada kita, dan berkecamuk di otak kita. Nah, puncak dari itu semua, pak Hernowo menyebutnya dengan 'PLONG'.

Setelah kita melakukan itu semua, kita harus membiasakan diri kita untuk membaca dan menuliskan diri kita setiap hari. Sehingga menurut pak Hernowo otot-otot menulis kita akan lebih fleksibel jika kita membiasakannya. Selain itu, ujar beliau lagi, kita akan sampai pada hal penting lain, yaitu Mengenali Diri.

Dengan sangat lihai pak Hernowo menggunakan istilah-istilah unik untuk menyampaikan gagasannya. Sehingga di telinga seorang pembaca (dalam hal ini saya) akan terdengar asyik dan menarik. Kita benar-benar diajak hanyut dalam samudra 'Pengikatan Makna'. Beliau tak henti-hentinya mengajak kita untuk terus membaca dan menulis. Karena hanya dengan begitu kita akan bisa mengetahui siapa diri kita sebenarnya.

Sungguh mengagumkan. Buku ini sangat layak dibaca para remaja yang terlalu sibuk menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, hal-hal yang tidak bisa menggerakkan pikiran mereka. Karena setelah kita menuntaskan seluruh halaman yang ada, kita seperti memiliki energi luar biasa, yang hanya kita sendiri yang tahu rasanya. Energi yang terus menerus memaksa kita untuk menjadi kita yang sebenarnya.

Pokoknya, two thumbs up!!

Semoga bermanfaat.

Mario Teguh Golden Ways, Happiness First

Ini dia, sebuah acara di Metro TV yang dipandu oleh seorang presenter kondang, Uli Herdiansyah (kalau tidak salah). Si presenter ini juga bertindak layaknya seorang moderator, jadi dia yang mengatur acara, namun juga ikut berpatisipasi.
Kemudian, intinya adalah seorang trainer dan motivator (kalau boleh kusebut begitu). ya, bapak Mario Teguh!

Sekilas aku mengira ia orang Chinese, matanya agak sipit dan white-skinned. Tapi, kayaknya aku salah.
dan memang salah sepertinya. Ia bahkan MUSLIM! Wow, aku sempat kaget, karena dari cara penampilan dan face-nya kan nggak begitu kelihatan, apalagi selalu pakai jas. tapi, ternyata beliau sudah pernah berkunjung di baitullah sana. Subhanallah...! :)

Nah, acara Mario Teguh Golden Ways ini ditayangkan Metro TV setiap hari Ahad pukul 19.00 WIB. Model acaranya itu seperti tarining, jadi bapak Mario berdiri di atas kemudian ada penonton yang duduk di kursi menyaksikan beliau berbicara.
Kemudian akan ada sesi tanya jawab pula bagi penontonnya, kadang juga bagi pemirsa di rumah.

Selain itu isi acaranya sip banget!
Dilihat dari cara penyampaian dan bahasa tutur bapak Mario itu, patut diacungi dua jempol sekaligus. Khas banget!. Yang paling mengena itu ya kata-katanya. Motivate banget deh!

Nah, bagi yang belum pernah menyaksikan aku sarankan segera saja meluangkan waktu untuk menyaksikan acara yang satu ini. Karena tak akan ada yang kecewa setelah menontonnya, justru mereka akan mendapatkan energi-energi positif. Hebat kan??!!
Ya, namanya juga acara motivation, pasti yang didapatkan juga aura-aura positif kan, daripada nonton yang nggak jelas, mending mantengin yang beginian. Jelas ada manfaatnya.

Buktinya aku nih.
Empat hari yang lalu aku menyaksikan acara ini, pas waktu itu temanya Happiness First.
Kemudian, sambil menyaksikan aku mencatat poin-poin penting dari kata-kata bapak Mario di handphone. Kemudian aku kirimkan ke teman akrabku.
Ini dia :

Kita tidak memiliki kewajiban berhasil di dunia ini, tapi kita memiliki kewajiban mencoba, karena dengan mencoba akan ada kemungkinan berhasil di situ.

Kebahagiaan selalu milik orang lain jika kita tidak memperhatikan dimana letak kebahagiaan itu sendiri, yaitu di hati.

Keinginan adalah keberhasilan yang ghaib, untuk menjadikannya nyata, hanya dengan satu cara nyata, yaitu upaya atau usaha.

Untuk memperbaiki nasib kita >>> Happiness First, menjadikan diri menjadi pelayan kebahagiaan bagi orang lain dengan rasa ikhlas, lalu menanti hasilnya dengan menyerahkan pada-Nya, karena tidak ada yang tahu segala rencana-Nya.

Oke, itu beberapa yang aku dapatkan dari acara hebat itu. Baru sebagian, belum yang lain. Acaranya memakan waktu satu jam, jadi pasti banyak hal yang diperoleh.
Selain itu aku juga ingta di bagian ketika bapak Mario berbicara soal unas, tapi aku kurang ingat persis, jadi aku tulis intinya aja ya.

Kenapa murid-murid itu bisa gagal dalam ujian nasional?
Karena mereka selalu merasa bahwa ujian nasional itu sulit sebelum menghadapinya.
Jadi, bisa aku simpulkan, kalau kita ingin berhasil di ujian nasional atau ujian apapun, jangan pernah berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang sulit, pikirkan bahwa ujian yang akan kita hadapi itu MUDAH!! Itu yang biasa aku katakan pada temanku yang lagi takut sama unas.

Sudah terlihat kan manfaat menyaksikan Mario Teguh Golden Ways?
Jadi, tunggu apa lagi?
Hari Ahad segera nyalakan televisi Anda! Dan... SALAM SUPER!!!
(khasnya pak Mario)

Semoga bermanfaat!

Syafakillah untuk adikku tersayang

Mungkin hanya do'a yang bisa terucap untuk adikku. Semoga engkau cepat sembuh ya dik.
Jangan terlalu lama sakitnya. Aku sungguh tak kuat melihat penyakitmu.
Ya, adikku sakit, sakit kulit. Tepatnya di wajah. Bisulan yang nggak satu dua kali muncul.
Pertama udah bisa sembuh, tapi kemudian timbul dan terus timbul. Padahal kemarin udah sempat mau berhenti, kini muncul beberapa lagi di dekat hidung, bahkan di kanan kiri bibir agak atas.
Ya Allah, aku mohon, sembuhkan adikku, hanya Engkau yang bisa Ya Rabb...

Tapi, alhamdulillah, aku punya adik yang luar biasa bersyukur dengan sakitnya.
Dia tidak mengeluh dengan penyakitnya itu, padahal kalau itu menimpa aku, ah, entahlah aku mungkin akan merasa maluuu luar biasa.
Ya, itu di wajah, bagaimana reaksimu jika kau yang menderita itu?
Selain itu adikku juga tidak mengeluh akan perihnya bisul itu, padahal perawatan bisulnya itu harus hati-hati. Namun adikku tak pernah menangis karena sakitnya.
Subhanallah adikuu.... kau sungguh hebat...

Pernah suatu ketika ada seorang teman yang mengomentari sakitnya itu.
Adikku memang sedikit jengkel saat ia menceritakannya padaku.
Betapa itu tak bisa terbayangkan, diejek teman... hh...
Adikku, kau sungguh kuat!

Dan, pagi ini ia dibawa ke dokter anak yang biasanya ia diperiksa.
Semoga saja itu semua segera berkahir ya dik.
sebab sempat beberapa waktu yang lalu adikku di bawa ke dokter umum, diberi obat dan salep putih, tapi, tak ada efek sama sekali. Akhirnya kembali lagi ke salep hitam yang lama.

Ya, sudah lamaaa sekali sakitnya itu menimpa adikku,
sampai bekas bisul yang pertama udah hampir hilang.

Baru saja, adik dan ibuku datang dari dokter. Ooh,,, ternyata infeksi kulit.
yah, apalah namanya itu, yang penting cepet sembuh yaa....


Bismillahirrohmaanirrohiim...
Allahumma robbannaasi, adzhibil ba'sa isyfi antasyafi laa syifaan illa syifauka syifaanla yughodiru saqoma.. amin.

Bukavu, nyastra bangeeet...!

Yaphz, aku baru aja selesai baca kumcernya mbak Helvy Tiana Rosa, Bukavu.
Kesan pertamaku adalah : BAGUS!
Ya, luar biasa nyastra, itu menurut kacamata awamku.
Karena jujur, aku bukan seorang yang ahli untuk nge-review atao nge-resensi karya orang lain.
Aku hanya akan bilang bagus atau jelek. Cukup.
Nah, cerpen-cerpen mbak Helvy itu aku rasa emang agak berat sih beberapa, nggak semua lho.
Berat dalam artian aku nggak bisa langsung paham maknanya. Kayak kalo lagi baca puisi, mikir-mikir dulu. Cuman bedanya yang ini puisi panjang.

Soalnya mungkin karena aku terbiasa baca cerpen yang langsung jelas ceritanya, gamblang gitu lho. Tapi, ada kok cerpen di Bukavu itu yang gamblang ceritanya, endingnya juga bagus, judulnya Titin Gentayangan,
Iya, itu endingnya lucu, kalo boleh dibilang begitu. Sebab nggak disangka-sangka banget bisa berakhir seperti itu.

Selain yang itu, masih ada pula cerpen yang isinya lumayan jelas. Cut Vi yang berlatarkan Aceh juga bagus. Ini cerpen yang lumayan paling aku suka dari ketujuh belas cerpen lainnya.
Karena memang cerpen-cerpen yang berlatarkan Aceh lebih menarik minatku.
Yang paling aku sukai adalah di bagian kutipan surat yang ditulis Cut Vi untuk Agam.
Aku percaya pada apa yang kulakuakn dan tak peduli bila terkesan aku yang melamarmu. Lagi pula apa salahnya meminta pria berbudi menjadi suami? Maka, Agam, sudikah?
Hmm... kata-katanya indah dan menawan.. hehe... ^o^

Dan juga Juragan Haji, bagus banget ceritanya, seorang pembantu rumah tangga yang ingiiin sekali naik haji. sementara majikannya udah berulang kali ke Baitullah. Hm.. kalo kita? Masih ingat nggak ya terakhir kali pengen naik haji kapan? hehe...

Nah, cerpen yang aku masih bingung itu judulnya Pertemuan di Taman Hening, Lelaki Kabut dan Boneka, dan Mencari Senyum. Kayaknya tiga itu deh.
Ya, mungkin karena keterbatasan kemampuanku aja dalam mencerna bahasa-bahasanya yang wuih, sastra bener deh. Tapi, semoga ke depannya aku bisa lebih menangkap maknanya.

Setidaknya setelah membaca Bukavu aku jadi seperti menemukan energi yang luar biasa besar. Apalagi tokoh-tokoh yang diambil mbak Helvy hampir semuanya perempuan. Ini sedikit banyak memberi motivasi pada diriku agar lebih baik lagi.

Apalagi cerpen Peri Biru jelas-jelas menceritakan keinginan tokohnya untuk menjadi seorang penulis seperti Asma Nadia dan Taufiq Ismail, sementara ia berada di lingkungan yang kurang mendukung. Ini sungguh memberiku percikan semangat yang berlebih untuk terus berkarya, semaksimal mungkin. Terserah dimana saja dan kapan saja. Kalau Peri menulis di buku-buku tulis tipis yang dibelinya di warung, aku berusaha menuliskan segalanya di blog ini.

Yak, semoga bermanfaat.

Hitam (2)

Hitam itu makin pekat
Keruh itu makin nyata
Kini aku benar-benar berada di dasar jurang,
terhempas, terbuang...

Aku (kini) tak merana lagi
Aku (kini) tak meradang lagi,
karena aku telah mati rasa

Aku tak bercahaya, aku gulita
Aku pun tak bisa menangis, air mataku habis
Bahkan, jantungku serasa tak berdetak...

ENYAHLAH DIRIKU!!!
Crash!!
Aku Remuk...

-sv-
08042010

i dont know

Entahlah, segalanya terasa begitu cepat. Namun aku seperti belum melakukan sesuatu yang hebat. Yang dahsyat dan amazing.
Tiba-tiba, umur udah segini. Hh....
Tapi waktu kan nggak bisa diputar, yang bergulir nggak kan kembali.
Lalu, musti gimana?
Satu-satunya cara adalah berusaha semaksimal mungkin memperbaiki diri.
Terus dan tiada henti..
kayaknya hanya itu deh,

kalo inget yang udah lalu pasti nyesel..
banget banget banget...
malu-maluin banget,
tapi...
selalu saja seperti ini..
Udah berulang kali menyesal tapi susah memperbaiki diri.
Kok bisa ya?
Kok sulit ya?
Ternyata nggak gampang ya?
Nggak selancar waktu di mulut..

Tapi, semua itu butuh perjuangan yang nggak ada matinya. kalo nyerah sebelum bertanding itu namanya PAYAH!!!
so, STRUGGLE!!!
dont give up!

Semoga, usahaku ini membuahkan hasil... :)

Kelabu, dan Siluet Pelangi

Aku melihat kelabu itu,
kelabu di mata beningmu
di antara derasnya hujan...

Namun,
perlahan kelabu itu memudar
Kemudian, sebuah siluet indah pelangi menggantikannya
Secuil senyum menghiasi bibir mungilmu

Lucu,
itu kata yang pantas untuk menggambarkannya
Akupun tersenyum
berharap kelabu itu tak singgah lagi..

-sv-
*weird, isn't it?*

Hitam

aku hitam,
di antara putihnya buih

aku keruh,
di antara beningnya samudra

aku puing,
yang luluh lantak
berserakan

aku terasing, terbuang, terkucil...

aku merana
aku meradang

namun aku bisu
namun aku tuli
namun buta

karena aku hitam, aku tak sepertimu...


-sv-

'berada di titik terendah puncak tertinggi'

Pengakuan

Pengakuan & pesan para ikhwan untuk para akhwat :
  1. Kami sulit menahan pandangan mata ketika sedang melihat kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan Allah kecantikan dan postur tubuh yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian, karena itu lebarkanlah pakaian kalian, dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan kerudung yang membentang.
  2. Kami juga sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan Allah suara yang merdu dengan irama yang mendayu, karena itu tegaskanlah suara kalian, dan berbicaralah seperlunya kepada kami.
  3. Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati akan kalian para akhwat, ketika kami merasa kalian dapat menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian.
  4. Kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para akhwat, tapi maaf bukan karena apa-apa tapi lebih karena dorongan yang itu, kata dokter sih ini ada hubungannya dengan libido kami, makanya kami akan selalu mencari cara agar bisa untuk terus dekat dengan kalian, apakah itu lewat Telepon, sms, chatting, bertemu muka, apalagi kalo kalian mau jadi pacar kami, minimal kami bisa pegangan tangan dengan kalian, karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.

Pengakuan & pesan para akhwat untuk para ikhwan:
  1. Kami itu senang jika diperhatikan, apalagi jika kalian adalah ikhwan yang dewasa, atau ikhwan yang alim, atau ikhwan yang cool, padahal kami belum mampu berhijab secara baik, karena itu tundukkanlah pandangan kalian dengan makna yang sebenarnya, dan janganlah kalian ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.
  2. Kami juga senang mendengar kalian berbicara dengan dan tentang kami, rasanya jadi gimana gitu, karena itu cukupkanlah pembicaraan kalian jika kalian mulai memberi pujian kepada kami meskipun itu hanya sebuah pujian kecil.
  3. Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati akan kalian para ikhwan, ketika kami merasa para kalian dapat menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayang-bayang kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami mencurahkan isi hati kami kepada kalian.
  4. Kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para ikhwan, tapi maaf..bukan karena apa-apa tapi lebih karena perhatian yang kalian berikan kepada kami, meskipun sesungguhnya kami sangat malu akan hal ini, terkadang kami pun terlepas kata dan laku, yang malah menjadikan kami dan kalian semakin tak mengenal batas, karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.
Notes :
Untuk ke sekian kalinya, saya mendapatkan artikel ini dari facebook.
Alhamdulillah, peroleh manfaat lagi dari jejaring sosial itu,
Ini saya ambil tepatnya dari catatan Ukhty Dini Putri Dinanti,
kebetulan saya ditandai di catatan itu,
maka dari itu, saya ingin membaginya kepada pembaca semua,
Semoga Bermanfaat... :)

^Selamat Membaca^